Kamis, Agustus 7

Kaktus



Informasi terlalu banyak berdesak masuk mendobrak mata. Lalu ada serak yang tertinggal di tangisan kaktus, di jeritan kaktus. Berita pukul tiga sore. Layaknya aku yang tertinggal darimu. Komputer, layar yang mati, aku memohon dalam puisi ini. Maukah kau lipat jarak ini?

Ada orang yang jadi korban politik. Kemudian sekongkol dalam bisik yang paling dalam, yang paling gelap. Jari meratap dalam jajaran tembok kemarau. Layaknya aku yang meratap untukmu. Manusia, Gedung Konstitusi, aku memohon dalam sepi ini. Maukah kau lipat jarak ini?


Kauturun tangga setiap sore. Barisan polisi buat empat ring di wajahmu. Ada gerak yang gelisah di iringan tawa yang basah. Pengemis menggigil dalam dansa kota yang dingin. Layaknya aku yang menggigil karenamu. Trotoar, pagi hari, aku bertanya dalam pekik ini. Kapan habis jarak ini?

Selasa, Agustus 5

Bicara



Padahal, bendera dan senjata itu sudah meratap di hadapan batu nisan. Jihadis sadar jalan pulang penuh papan petunjuk. Waktu bergegas terburu ke arah utara. Tapi, mata kita terus bicara.

Kita cuma dua orang yang bertemu tanpa rencana. Ada mobil yang menderita luka bakar. Seorang anak memakan luka, menelan letih, lalu menghisap bara. Tapi, mata kita terus bicara.

Maukah kaubahas rencana? Di antara alunan doa yang sudah berdebu. Pekik dan jerit yang berlarian hingga menetes harap di sela tapak yang tegak di atas olok. Mendamba cemara. Cuma, mata kita terus bicara.