Selasa, Agustus 5

Bicara



Padahal, bendera dan senjata itu sudah meratap di hadapan batu nisan. Jihadis sadar jalan pulang penuh papan petunjuk. Waktu bergegas terburu ke arah utara. Tapi, mata kita terus bicara.

Kita cuma dua orang yang bertemu tanpa rencana. Ada mobil yang menderita luka bakar. Seorang anak memakan luka, menelan letih, lalu menghisap bara. Tapi, mata kita terus bicara.

Maukah kaubahas rencana? Di antara alunan doa yang sudah berdebu. Pekik dan jerit yang berlarian hingga menetes harap di sela tapak yang tegak di atas olok. Mendamba cemara. Cuma, mata kita terus bicara.

Tidak ada komentar: