pagi ini
saat sedang berangkat ke kampus
tokoh
kita dihadang seorang pria yang membawa senjata api
pria itu
mengancam akan menembak jika tokoh kita tak mau berhenti
tapi
tokoh kita terus saja berjalan lenggang kangkung menuju kampus.
karena
tidak berhenti pria itu marah dan langsung menembak
tembakan
tidak kena dan tokoh kita terus saja berjalan
pria itu
menembak sekali lagi dan kali ini tembus betis sebelah kanan
tokoh
kita jatuh tersungkur.
di betis
kanan tokoh kita mengalir darah
tokoh
kita mengikatkan kain di betis kanannya agar darah tak terus mengalir
setelah
betis kanan dibalut tokoh kita kembali jalan menuju kampus
dan pria
penembak jalan menuju rumahnya.
“dasar
borjuis pagi-pagi sudah menembak pejalan kaki,”
sungut
tokoh kita.
tokoh
kita sampai di kampus paling pertama dan terpaksa menunggu di depan gerbang
karena
pintu gerbang kampus belum dibuka
sementara
itu sekuriti kampus tertidur pulas dalam posnya.
tokoh
kita mengambil batu kerikil kecil dan melempar ke arah sekuriti
kerikil
itu jatuh di kepala sekuriti tapi sekuriti tidak bangun
tokoh
kita mengambil batu batako yang lebih besar dan melempar
batako
itu jatuh di kepala sekuriti dan sekuriti itu pun bangun.
sekuriti
segera membuka pintu gerbang dan menyilakan tokoh kita masuk kampus
beberapa
lama sekuriti memperhatikan tokoh kita yang berjalan masuk kampus
setelah
itu baru sadar bahwa ada yang tidak wajar di kepalanya
diraba-raba
dan ternyata ada lubang di kepalannya.
tokoh
kita tidak sempat memperhatikan lubang di kepala sekuriti
pikirannya
terlalu asik memikirkan teori sastra
teori sastra baru buat membunuh teori sastra dosennya
yang
bagi tokoh kita teori sastra dosennya sudah usang dan lapuk.
sampai
di dalam kampus tokoh kita duduk di depan kelas
tidak
masuk ke dalam kelas karena pintu kelas masih terkunci
sambil
duduk di depan kelas tokoh kita menyusun teorinya dan merenung
merenung,
merenung dan tanpa sadar tertidur.
ketika terbangun
dari tidurnya tahu-tahu kelas sudah bubar
tampaknnya
tokoh kita terlalu lama tertidur entah karena luka di kakinya
atau
karena semalam dia terlalu banyak membaca buku filsafat
sehingga
pagi ini sangat mengantuk.
karena
sangat mengantuk sekaligus kelas sudah bubar
tokoh
kita kembali menidurkan dirinya di depan ruang kelas
tokoh
kita tertidur tanpa ada satu mahasiswa dan dosen pun yang membangunkannya.
sore
hari seorang mahasiswa wanita memberanikan diri
buat
membangunkan tokoh kita.
tokoh
kita terbangun dan segera kaget
karena
ada wanita berparas cantik berdiri di depannya
wajah wanita
itu kuning langsat dengan mata sipit dan rambutnya lurus hitam sepanjang bahu
wanita
itu tersenyum.
wanita
itu menatap tokoh kita dengan seksama
dirabanya
kulit wajah tokoh kita yang lembut dan kenyal
diusapnya
rambut tokoh kita yang halus dan menyebarkan aroma wangi
wanita
itu menyadari dari segala sisi tokoh kita terlihat tampan sekali.
wanita
itu mengajak tokoh kita nonton berdua ke bioskop
merayu-rayu
dan memuji-muji tokoh kita buat menuruti keinginannya
tapi tokoh
kita dengan tegas menolak sambil berkata,
“menonton
di bioskop adalah sikap borjuis dan aku menolak sikap borjuis.”
tokoh
kita pun pergi meninggalkan wanita itu
pergi
menuju kantin dan memesan tiga piring makanan dan dua gelas minuman
pedagang
makanan di kantin berpikir bahwa tokoh kita tentu sangat lapar
karena
memesan makanan begitu banyak.
pedagang
makanan kantin mengantarkan pesanan makanan kepada tokoh kita
makanan diletakkan
di atas meja dan langsung dibayar oleh tokoh kita
setelah
itu tokoh kita pergi tanpa menyentuh makanan sama sekali
pedagang
makanan terheran-heran melihat sikap tokoh kita.
tokoh
kita pergi dari kantin sambil bersungut-sungut,
“memesan
makanan adalah sikap borjuis.”
tokoh
kita kini berjalan menuju kelas
karena
sore ini ada jadwal kuliah pemikiran kontemporer kesayangannya
tokoh
kita sampai di kelas pertama kali.
saat
sedang menunggu tiba-tiba ada seorang wanita masuk kelas
tokoh
kita ingat bahwa wanita yang masuk itu adalah wanita yang tadi membangunkannya
wanita
itu tersenyum ramah dan duduk di bangku sampingnya.
duduk
berdampingan dengan seorang wanita cantik
membuat tokoh
kita tidak mampu berkonsentrasi mendengarkan pengajaran dari dosennya
semakin
dipusatkan perhatiannya malah semakin buyar rasanya
maka
tokoh kita meminta izin pulang pada dosennya.
tokoh
kita pulang ke rumah kardusnya dengan tidak lupa menggandeng tangan wanita
cantik
wanita
itu gembira luar biasa saat tangannya digandeng tokoh kita
sang
dosen dan mahasiswa kelas pemikiran kontemporer ikut tersenyum gembira.
“jatuh
cinta adalah sikap universal,”
ujar
tokoh kita pada dosennya
dan sang
dosen langsung mengangguk tanda setuju.
malam
hari saat sedang pulang ke rumah kardusnya
tokoh
kita dan wanita cantik dihadang seorang pria borjuis yang membawa senjata api
pria borjuis
itu mengancam akan menembak jika mereka tidak mau berhenti
tapi mereka
terus saja jalan berlenggang kangkung menuju rumah kardus tokoh kita.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar