Kamis, Desember 29

puisi dan sisi



pagi ini saat sedang berangkat ke kampus
tokoh kita dihadang seorang pria yang membawa senjata api
pria itu mengancam akan menembak jika tokoh kita tak mau berhenti
tapi tokoh kita terus saja berjalan lenggang kangkung menuju kampus.

karena tidak berhenti pria itu marah dan langsung menembak
tembakan tidak kena dan tokoh kita terus saja berjalan
pria itu menembak sekali lagi dan kali ini tembus betis sebelah kanan
tokoh kita jatuh tersungkur.

di betis kanan tokoh kita mengalir darah
tokoh kita mengikatkan kain di betis kanannya agar darah tak terus mengalir
setelah betis kanan dibalut tokoh kita kembali jalan menuju kampus
dan pria penembak jalan menuju rumahnya.

“dasar borjuis pagi-pagi sudah menembak pejalan kaki,”
sungut tokoh kita.

tokoh kita sampai di kampus paling pertama dan terpaksa menunggu di depan gerbang
karena pintu gerbang kampus belum dibuka
sementara itu sekuriti kampus tertidur pulas dalam posnya.

tokoh kita mengambil batu kerikil kecil dan melempar ke arah sekuriti
kerikil itu jatuh di kepala sekuriti tapi sekuriti tidak bangun
tokoh kita mengambil batu batako yang lebih besar dan melempar
batako itu jatuh di kepala sekuriti dan sekuriti itu pun bangun.

sekuriti segera membuka pintu gerbang dan menyilakan tokoh kita masuk kampus
beberapa lama sekuriti memperhatikan tokoh kita yang berjalan masuk kampus
setelah itu baru sadar bahwa ada yang tidak wajar di kepalanya
diraba-raba dan ternyata ada lubang di kepalannya.

tokoh kita tidak sempat memperhatikan lubang di kepala sekuriti
pikirannya terlalu asik memikirkan teori sastra
teori sastra baru buat membunuh teori sastra dosennya
yang bagi tokoh kita teori sastra dosennya sudah usang dan lapuk.

sampai di dalam kampus tokoh kita duduk di depan kelas
tidak masuk ke dalam kelas karena pintu kelas masih terkunci
sambil duduk di depan kelas tokoh kita menyusun teorinya dan merenung
merenung, merenung dan tanpa sadar tertidur.

ketika terbangun dari tidurnya tahu-tahu kelas sudah bubar
tampaknnya tokoh kita terlalu lama tertidur entah karena luka di kakinya
atau karena semalam dia terlalu banyak membaca buku filsafat
sehingga pagi ini sangat mengantuk.

karena sangat mengantuk sekaligus kelas sudah bubar
tokoh kita kembali menidurkan dirinya di depan ruang kelas
tokoh kita tertidur tanpa ada satu mahasiswa dan dosen pun yang membangunkannya.

sore hari seorang mahasiswa wanita memberanikan diri
buat membangunkan tokoh kita.

tokoh kita terbangun dan segera kaget
karena ada wanita berparas cantik berdiri di depannya
wajah wanita itu kuning langsat dengan mata sipit dan rambutnya lurus hitam sepanjang bahu
wanita itu tersenyum.

wanita itu menatap tokoh kita dengan seksama
dirabanya kulit wajah tokoh kita yang lembut dan kenyal
diusapnya rambut tokoh kita yang halus dan menyebarkan aroma wangi
wanita itu menyadari dari segala sisi tokoh kita terlihat tampan sekali.

wanita itu mengajak tokoh kita nonton berdua ke bioskop
merayu-rayu dan memuji-muji tokoh kita buat menuruti keinginannya
tapi tokoh kita dengan tegas menolak sambil berkata,
“menonton di bioskop adalah sikap borjuis dan aku menolak sikap borjuis.”

tokoh kita pun pergi meninggalkan wanita itu
pergi menuju kantin dan memesan tiga piring makanan dan dua gelas minuman
pedagang makanan di kantin berpikir bahwa tokoh kita tentu sangat lapar
karena memesan makanan begitu banyak.

pedagang makanan kantin mengantarkan pesanan makanan kepada tokoh kita
makanan diletakkan di atas meja dan langsung dibayar oleh tokoh kita
setelah itu tokoh kita pergi tanpa menyentuh makanan sama sekali
pedagang makanan terheran-heran melihat sikap tokoh kita.

tokoh kita pergi dari kantin sambil bersungut-sungut,
“memesan makanan adalah sikap borjuis.”

tokoh kita kini berjalan menuju kelas
karena sore ini ada jadwal kuliah pemikiran kontemporer kesayangannya
tokoh kita sampai di kelas pertama kali.

saat sedang menunggu tiba-tiba ada seorang wanita masuk kelas
tokoh kita ingat bahwa wanita yang masuk itu adalah wanita yang tadi membangunkannya
wanita itu tersenyum ramah dan duduk di bangku sampingnya.

duduk berdampingan dengan seorang wanita cantik
membuat tokoh kita tidak mampu berkonsentrasi mendengarkan pengajaran dari dosennya
semakin dipusatkan perhatiannya malah semakin buyar rasanya
maka tokoh kita meminta izin pulang pada dosennya.

tokoh kita pulang ke rumah kardusnya dengan tidak lupa menggandeng tangan wanita cantik
wanita itu gembira luar biasa saat tangannya digandeng tokoh kita
sang dosen dan mahasiswa kelas pemikiran kontemporer ikut tersenyum gembira.

“jatuh cinta adalah sikap universal,”
ujar tokoh kita pada dosennya
dan sang dosen langsung mengangguk tanda setuju.

malam hari saat sedang pulang ke rumah kardusnya
tokoh kita dan wanita cantik dihadang seorang pria borjuis yang membawa senjata api
pria borjuis itu mengancam akan menembak jika mereka tidak mau berhenti
tapi mereka terus saja jalan berlenggang kangkung menuju rumah kardus tokoh kita.

Tidak ada komentar: