Jumat, Desember 9

unas



tokoh kita sedang ada di perpus unas
membaca buku-buku yang tersusun rapi di rak-rak
buku-buku membentuk gunungan
sebanyak ratusan hingga ribuan buku terbaca.

lama-lama tokoh kita merasa muak dan merasa mau muntah
karena melihat buku-buku sisa bacaannya bertumpuk-tumpuk
di depan tubuh tokoh kita.

tokoh kita menatap curiga ke buku-buku itu
buku itu ada tapi tokoh kita tak tahu mengapa buku itu bisa ada?
apa karena ini perpus maka buku itu ada?
atau apa karena dia baru membaca maka buku itu ada?

membaca bukan perkara mudah
bagi tokoh kita membaca bukan hanya persoalan kata
kata-kata itu mencakup dunia dan manusia
jadi membaca juga adalah membaca dunia dan manusia.

tokoh kita benar-benar muntah setelah sadar
bahwa tokoh kita belum pernah membaca dunia dan manusia
selama ini tokoh kita hanya merasa pernah membaca
tapi sesungguhnya belum pernah membaca.

selama ini tokoh kita selalu terlihat membaca buku di mana-mana
saat masuk kelas pasti tokoh kita membawa buku bacaan berukuran tebal
ukuran buku tokoh kita lebih tebal dari ukuran buku dosennya
lantas dosen tokoh kita merasa iri dan tersaingi.

suatu hari sang dosen memberi nilai c pada lembar ujian tokoh kita
tokoh kita terperanjat melihat nilai ujiannya
dan lantas menemui dosennya.

“kenapa nilai saya c?” tanya tokoh kita.

“nilai kamu c karena saya ingin memberi kamu nilai c. nilai kamu akan a jika saya ingin   memberi kamu nilai a,” jawab sang dosen panjang lebar.

omongan sang dosen membuat tokoh kita kecewa
tokoh kita mondar-mandir saja di sekitar kampus
memikirkan perkataan sang dosen secara seksama dan mendalam
tokoh kita akan terus berpikir hingga mendapatkan esensi perkataan dosennya.

pada akhirnya tokoh kita mendapat jawaban
tokoh kita segera mendatangi sang dosen
dan meminta sang dosen untuk tidak memberi tokoh kita nilai.

menurut tokoh kita
nilai hanya mereduksi kehidupan mahasiswa maka nilai seharusnya dienyahkan saja
dengan kata lain tiada nilai.

sang dosen senang bukan kepalang mendengar gagasan tokoh kita
segera saja sang dosen menghapus nilai tokoh kita
sehingga nilai tokoh kita menjadi nilai e.

dengan terhapusnya nilai tokoh kita
maka semester ini sang dosen berhasil menidakluluskan seluruh mahasiswanya
ketidaklulusan seluruh mahasiswa semester ini adalah prestasi terbaik sang dosen
dalam lembar sejarah pengajarannya.

bagi sang dosen ketidaklulusan mahasiswa sangat menggembirakan hatinya
karena jika mahasiswa tidak lulus maka mahasiswa menjadi bereksistensi tiada
dengan begitu sang dosen menjadi bereksistensi ada.

sang dosen kini semakin sering berdoa
agar semakin banyak saja mahasiswa seperti tokoh kita
yang meminta nilai-nilai ditiadakan saja.

suatu hari di unas nilai-nilai benar-benar ditiadakan
sehingga dosen-dosen bisa mengajar sebebas-bebasnya
dan para mahasiswa juga bisa belajar hingga sebebas-bebasnya.

tokoh kita belajar tidak henti-hentinya
segala hal dipelajari dengan penuh rasa tanggung jawab
ia belajar bersama dengan teman-teman di kampusnya.

kebersamaan ini meningkatkan hasrat tokoh kita
untuk terus belajar dan membaca segala hal
membaca kata-kata, manusia, dan dunia.

setiap hari tokoh kita terlihat ada di perpustakaan unas
membaca buku-buku yang tersusun rapi di rak-rak
buku-buku membentuk gunungan
sebanyak ratusan hingga ribuan buku terbaca sudah.

Tidak ada komentar: