tokoh
kita sedang ada di perpus unas
membaca
buku-buku yang tersusun rapi di rak-rak
buku-buku
membentuk gunungan
sebanyak
ratusan hingga ribuan buku terbaca.
lama-lama
tokoh kita merasa muak dan merasa mau muntah
karena
melihat buku-buku sisa bacaannya bertumpuk-tumpuk
di depan
tubuh tokoh kita.
tokoh
kita menatap curiga ke buku-buku itu
buku itu
ada tapi tokoh kita tak tahu mengapa
buku itu bisa ada?
apa karena
ini perpus maka buku itu ada?
atau apa
karena dia baru membaca maka buku itu ada?
membaca bukan
perkara mudah
bagi
tokoh kita membaca bukan hanya persoalan kata
kata-kata itu mencakup dunia dan manusia
jadi
membaca juga adalah membaca dunia dan manusia.
tokoh kita
benar-benar muntah setelah sadar
bahwa
tokoh kita belum pernah membaca dunia dan manusia
selama
ini tokoh kita hanya merasa pernah membaca
tapi
sesungguhnya belum pernah membaca.
selama ini
tokoh kita selalu terlihat membaca buku di mana-mana
saat masuk
kelas pasti tokoh kita membawa buku bacaan berukuran tebal
ukuran buku
tokoh kita lebih tebal dari ukuran buku dosennya
lantas dosen
tokoh kita merasa iri dan tersaingi.
suatu hari
sang dosen memberi nilai c pada lembar ujian tokoh kita
tokoh
kita terperanjat melihat nilai ujiannya
dan
lantas menemui dosennya.
“kenapa
nilai saya c?” tanya tokoh kita.
“nilai kamu c karena saya ingin
memberi kamu nilai c. nilai kamu akan a jika saya ingin memberi kamu nilai a,” jawab sang dosen
panjang lebar.
omongan sang dosen membuat tokoh
kita kecewa
tokoh kita mondar-mandir saja di sekitar
kampus
memikirkan perkataan sang dosen secara
seksama dan mendalam
tokoh kita akan terus berpikir hingga
mendapatkan esensi perkataan dosennya.
pada akhirnya tokoh kita mendapat
jawaban
tokoh kita segera mendatangi sang
dosen
dan meminta sang dosen untuk
tidak memberi tokoh kita nilai.
menurut tokoh kita
nilai hanya mereduksi kehidupan
mahasiswa maka nilai seharusnya dienyahkan saja
dengan kata lain tiada nilai.
sang dosen senang bukan kepalang
mendengar gagasan tokoh kita
segera saja sang dosen menghapus nilai
tokoh kita
sehingga nilai tokoh kita menjadi nilai e.
dengan terhapusnya nilai tokoh
kita
maka semester ini sang dosen
berhasil menidakluluskan seluruh mahasiswanya
ketidaklulusan seluruh mahasiswa semester
ini adalah prestasi terbaik sang dosen
dalam lembar sejarah
pengajarannya.
bagi sang dosen ketidaklulusan
mahasiswa sangat menggembirakan hatinya
karena jika mahasiswa tidak lulus
maka mahasiswa menjadi bereksistensi tiada
dengan begitu sang dosen menjadi bereksistensi ada.
sang dosen kini semakin sering
berdoa
agar semakin banyak saja
mahasiswa seperti tokoh kita
yang meminta nilai-nilai ditiadakan saja.
suatu hari di unas nilai-nilai
benar-benar ditiadakan
sehingga dosen-dosen bisa mengajar
sebebas-bebasnya
dan para mahasiswa juga bisa
belajar hingga sebebas-bebasnya.
tokoh kita belajar tidak
henti-hentinya
segala hal dipelajari dengan
penuh rasa tanggung jawab
ia belajar bersama dengan teman-teman di kampusnya.
kebersamaan ini meningkatkan hasrat tokoh kita
untuk terus belajar dan membaca segala hal
membaca kata-kata, manusia, dan dunia.
setiap
hari tokoh kita terlihat ada di perpustakaan
unas
membaca
buku-buku yang tersusun rapi di rak-rak
buku-buku
membentuk gunungan
sebanyak ratusan hingga ribuan
buku terbaca sudah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar