tokoh
kita sedang jalan-jalan menjelajahi kota batavia
siang
ini ramai sekali di jalan banyak kuda dan kereta
bahkan
ada empat ekor gajah segala
di
sepanjang sisi jalan anak-anak
dan
budak berkumpul.
kata
salah seorang budak
nanti
sore akan ada utusan cina datang bertamu
jadi
tuan kompeni berkonvoi mendatangi pelabuhan
buat
menjemput sang utusan dan biar si utusan merasa senang.
konvoi
sengaja dibuat ramai.
tokoh
kita juga senang melihat keramaian ini
dia
ikut-ikutan juga berkonvoi mengunjungi pelabuhan
dia
menumpang di salah satu punggung gajah
yang
penampilannya paling gagah.
gajah yang
ditumpangi tokoh kita bertubuh besar dan tinggi
meski tubuhnya
besar tapi jalan gajah itu sangat lamban
sehingga
tokoh kita tertinggal
paling
belakang.
karena bosan
terus jalan paling belakang
tokoh
kita memutuskan untuk berjalan kaki saja ke pelabuhan
jarak
dari batavia ke pelabuhan dekat saja
belum
lama berjalan kaki
tahu-tahu
sudah sampai.
ternyata
di pelabuhan utusan cina sudah tiba
dia
menunggu di pelabuhan sambil ditemani
oleh dua
orang pendampingnya.
utusan
cina dan dua pendampingnya punya kesamaan model rambut
bagian
kepala depan mereka sama-sama botak halus
sementara
bagian kepala belakang
berambut
panjang dan dikepang
seperti
perempuan.
para perempuan
tentu tak ingin punya pacar dengan pria yang punya model rambut seperti itu bahkan
jika tokoh kita adalah perempuan
dari
pada punya pacar dengan model rambut seperti itu
lebih
baik tidak punya pacar saja
seumur
hidup.
tokoh
kita memang belum pernah pacaran
bukan
karena tidak laku tapi memang di batavia itu jarang perempuan
sekalinya
ada perempuan cantik
tahu-tahu
dia sudah jadi gundik
pergundikan
itu lagi jadi tren sekarang
di
mana-mana tuan kompeni pasti punya gundik
tidak
terkecuali gubernur jendral.
di
pelabuhan gubernur jendral sedang menyalami utusan cina
ditembakkan
salvo-salvo meriam ke udara
langit
jadi hitam oleh asap yang keluar dari corong-corong meriam
orang-orang
yang hadir di pelabuhan bertepuk tangan.
tokoh
kita bertepuk tangan paling kencang
selain
bertepuk tangan dia juga melambai-lambaikan tangannya ke arah utusan cina
utusan
cina segera membalas lambaian tangan tokoh kita
disertai
senyuman di wajah.
wajah
utusan cina sepintas seperti terbakar matahari
maklum saja
perjalanan dari cina ke batavia lumayan memakan waktu
kira-kira
diperlukan waktu sekitar satu hingga dua bulan
makanya
wajah-wajah mereka gosong menghitam.
wajah
tokoh kita sendiri sudah sangat hitam
sudah
empat tahun lebih tokoh kita tinggal di batavia
diselimuti
oleh gersangnya cahaya sang surya
apalagi
dia sudah jarang memakai kain-kain wol panjang yang berlapis-lapis.
selain lupa
dengan gaya pakaian tanah kelahirannya
tokoh
kita juga sudah lupa dengan keluarganya di rumah
dia jadi
sedih karena tiba-tiba dia sadar bahwa
sudah
bertahun-tahun dia terpisah dengan keluarganya.
“sudah
jangan terlalu memikirkan keluarga. keluarga anda pasti sehat-sehat saja,”
kata
utusan cina berusaha menenangkan hati tokoh kita.
hati
tokoh kita jadi lebih tenang
apalagi
ketika dia kembali ke dalam benteng kota
di sana
sedang diadakan pesta penyambutan
buat
kedatangan utusan cina.
sang
utusan cina itu mengajak tokoh kita
buat
senang pesta-pesta makan makanan apa saja yang tersedia
tokoh
kita jadi gembira luar biasa
lompat
menari berdansa-dansa.
tokoh
kita lalu jalan-jalan menjelajahi kota batavia
malam
ini ramai sekali di jalan banyak kuda dan kereta
bahkan
ada empat ekor gajah segala
di
sepanjang sisi jalan anak-anak
dan
budak berkumpul.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar