Rabu, Desember 25
Senin, Desember 23
Gie
tidak sampai aku menuju
saat pagi terakhir menguap dari pandangku
dan aku tidak bisa melangkah.
kini kusadari terasa jerat betapa lekat
orang tak kukenal melempar pekik tak terdengar
aku menggelepar di atas trotoar.
di puncak gunung yang tinggi
saat gas beracun terus memaksa pergi
Gie pernah berkata, “makhluk kecil
kembalilah
dari tiada ke tiada.”
Rabu, Desember 18
Joseph
ada denging yang menyengat
saat kaulihat wajah itu diam
melebur ke dalam hening panjang.
dan anjing tetangga terus menyalak
membekukan tetes hujan
hancur leburkan ruas jalan
di atas telapak tanganmu.
telah kaupetik api di tangkai matahari
engkau korbankan darah
dan luka padanya
tapi, hanya anjing tetangga yang menyalak.
Kamis, Desember 29
puisi dan sisi
pagi ini
saat sedang berangkat ke kampus
tokoh
kita dihadang seorang pria yang membawa senjata api
pria itu
mengancam akan menembak jika tokoh kita tak mau berhenti
tapi
tokoh kita terus saja berjalan lenggang kangkung menuju kampus.
karena
tidak berhenti pria itu marah dan langsung menembak
tembakan
tidak kena dan tokoh kita terus saja berjalan
pria itu
menembak sekali lagi dan kali ini tembus betis sebelah kanan
tokoh
kita jatuh tersungkur.
di betis
kanan tokoh kita mengalir darah
tokoh
kita mengikatkan kain di betis kanannya agar darah tak terus mengalir
setelah
betis kanan dibalut tokoh kita kembali jalan menuju kampus
dan pria
penembak jalan menuju rumahnya.
“dasar
borjuis pagi-pagi sudah menembak pejalan kaki,”
sungut
tokoh kita.
tokoh
kita sampai di kampus paling pertama dan terpaksa menunggu di depan gerbang
karena
pintu gerbang kampus belum dibuka
sementara
itu sekuriti kampus tertidur pulas dalam posnya.
tokoh
kita mengambil batu kerikil kecil dan melempar ke arah sekuriti
kerikil
itu jatuh di kepala sekuriti tapi sekuriti tidak bangun
tokoh
kita mengambil batu batako yang lebih besar dan melempar
batako
itu jatuh di kepala sekuriti dan sekuriti itu pun bangun.
sekuriti
segera membuka pintu gerbang dan menyilakan tokoh kita masuk kampus
beberapa
lama sekuriti memperhatikan tokoh kita yang berjalan masuk kampus
setelah
itu baru sadar bahwa ada yang tidak wajar di kepalanya
diraba-raba
dan ternyata ada lubang di kepalannya.
tokoh
kita tidak sempat memperhatikan lubang di kepala sekuriti
pikirannya
terlalu asik memikirkan teori sastra
teori sastra baru buat membunuh teori sastra dosennya
yang
bagi tokoh kita teori sastra dosennya sudah usang dan lapuk.
sampai
di dalam kampus tokoh kita duduk di depan kelas
tidak
masuk ke dalam kelas karena pintu kelas masih terkunci
sambil
duduk di depan kelas tokoh kita menyusun teorinya dan merenung
merenung,
merenung dan tanpa sadar tertidur.
ketika terbangun
dari tidurnya tahu-tahu kelas sudah bubar
tampaknnya
tokoh kita terlalu lama tertidur entah karena luka di kakinya
atau
karena semalam dia terlalu banyak membaca buku filsafat
sehingga
pagi ini sangat mengantuk.
karena
sangat mengantuk sekaligus kelas sudah bubar
tokoh
kita kembali menidurkan dirinya di depan ruang kelas
tokoh
kita tertidur tanpa ada satu mahasiswa dan dosen pun yang membangunkannya.
sore
hari seorang mahasiswa wanita memberanikan diri
buat
membangunkan tokoh kita.
tokoh
kita terbangun dan segera kaget
karena
ada wanita berparas cantik berdiri di depannya
wajah wanita
itu kuning langsat dengan mata sipit dan rambutnya lurus hitam sepanjang bahu
wanita
itu tersenyum.
wanita
itu menatap tokoh kita dengan seksama
dirabanya
kulit wajah tokoh kita yang lembut dan kenyal
diusapnya
rambut tokoh kita yang halus dan menyebarkan aroma wangi
wanita
itu menyadari dari segala sisi tokoh kita terlihat tampan sekali.
wanita
itu mengajak tokoh kita nonton berdua ke bioskop
merayu-rayu
dan memuji-muji tokoh kita buat menuruti keinginannya
tapi tokoh
kita dengan tegas menolak sambil berkata,
“menonton
di bioskop adalah sikap borjuis dan aku menolak sikap borjuis.”
tokoh
kita pun pergi meninggalkan wanita itu
pergi
menuju kantin dan memesan tiga piring makanan dan dua gelas minuman
pedagang
makanan di kantin berpikir bahwa tokoh kita tentu sangat lapar
karena
memesan makanan begitu banyak.
pedagang
makanan kantin mengantarkan pesanan makanan kepada tokoh kita
makanan diletakkan
di atas meja dan langsung dibayar oleh tokoh kita
setelah
itu tokoh kita pergi tanpa menyentuh makanan sama sekali
pedagang
makanan terheran-heran melihat sikap tokoh kita.
tokoh
kita pergi dari kantin sambil bersungut-sungut,
“memesan
makanan adalah sikap borjuis.”
tokoh
kita kini berjalan menuju kelas
karena
sore ini ada jadwal kuliah pemikiran kontemporer kesayangannya
tokoh
kita sampai di kelas pertama kali.
saat
sedang menunggu tiba-tiba ada seorang wanita masuk kelas
tokoh
kita ingat bahwa wanita yang masuk itu adalah wanita yang tadi membangunkannya
wanita
itu tersenyum ramah dan duduk di bangku sampingnya.
duduk
berdampingan dengan seorang wanita cantik
membuat tokoh
kita tidak mampu berkonsentrasi mendengarkan pengajaran dari dosennya
semakin
dipusatkan perhatiannya malah semakin buyar rasanya
maka
tokoh kita meminta izin pulang pada dosennya.
tokoh
kita pulang ke rumah kardusnya dengan tidak lupa menggandeng tangan wanita
cantik
wanita
itu gembira luar biasa saat tangannya digandeng tokoh kita
sang
dosen dan mahasiswa kelas pemikiran kontemporer ikut tersenyum gembira.
“jatuh
cinta adalah sikap universal,”
ujar
tokoh kita pada dosennya
dan sang
dosen langsung mengangguk tanda setuju.
malam
hari saat sedang pulang ke rumah kardusnya
tokoh
kita dan wanita cantik dihadang seorang pria borjuis yang membawa senjata api
pria borjuis
itu mengancam akan menembak jika mereka tidak mau berhenti
tapi mereka
terus saja jalan berlenggang kangkung menuju rumah kardus tokoh kita.Selasa, Desember 27
googlisme
setelah
bertahun-tahun berkunjung ke situs google
tokoh
kita menyadari bahwa sesungguhnya di dunia ini ramai sekali
tetapi
mengapa tokoh kita selalu merasa sendiri dan sepi?
suatu
hari tokoh kita berjalan-jalan di toko kaset
di sana
dia bertemu dengan seorang wanita teman kuliahnya
dia
dekati dan sapa wanita itu tetapi wanita itu malah berkata, “maaf, anda siapa?”
kemudian tokoh
kita berpikir apa yang salah pada dirinya?
tokoh kita selalu berpikir meski sedang makan, sedang mandi, bahkan sedang tidur
selain
berpikir tokoh kita juga berdiskusi dengan teman kuliahnya
dengan
dosennya, hingga dengan buku filsafatnya.
berminggu-minggu
tokoh kita berpikir dan berdiskusi
tetapi
tak ditemui jawaban yang final dan pasti sehingga membuat frustrasi
lama-lama
rasa frustrasi menjadi-jadi
sehingga
tokoh kita takut menjadi gila.
karena
takut gila maka tokoh kita mendatangi google
di
google tokoh kita bertanya penyebab dia selalu merasa sepi dan sendiri
dan
google menjawab bahwa tokoh kita harus bersikap terbuka
pada
sesama manusia.
tokoh
kita belajar bersikap terbuka sekarang
dimulai
dari bersikap terbuka terhadap diri sendiri
setiap
pagi tokoh kita selalu menyempatkan diri menatap wajahnya di cermin
kemudian
tersenyum dan berkata, “halo, anda tampan sekali hari ini.”
setelah
yakin bahwa dirinya sudah bersikap terbuka
tokoh
kita mulai berani bersikap terbuka pada orang lain
pagi ini
tokoh kita selalu menyapa dan memuji setiap orang yang ditemuinya
sehingga
orang-orang menyangka tokoh kita sudah gila dan terganggu jiwanya.
tokoh
kita tahu bahwa orang banyak menuduhnya gila
tapi
tokoh kita berjanji tidak akan putus asa
karena
bersikap terbuka itu membuat dirinya bahagia.
suatu
hari tokoh kita berpapasan dengan seorang wanita
tokoh
kita lantas berkata, “halo, anda cantik sekali sore ini.”
wanita
yang disapa terpana dan tidak menyangka karena selama hidupnya
baru
sekarang ini ada orang selain orang tuanya yang memuji dirinya.
wanita
itu langsung menghampiri dan mengajak tokoh kita berkenalan
mereka
berdua berkenalan setelah itu memutuskan untuk pergi ke taman
dan di
taman mereka saling kasmaran.
“cinta
selalu datang tanpa terduga,”
ujar
wanita itu pada tokoh kita.
tokoh
kita hanya manggut-manggut saja
tokoh
kita tidak mampu berpikir apa-apa karena terlalu bahagia
dalam
perasaannya tidak ada lagi perasaan lain selain perasaan bahagia.
kini
hari-hari tokoh dihabiskan dengan berdua-dua dengan wanita itu
mereka
jalan-jalan dan berjemur di pantai berdua
mereka
jalan-jalan dan membaca di perpus berdua.
karena
selalu berdua ke mana saja maka
tanpa
sadar imaji wanita itu merasuk ke dalam pikiran tokoh kita
tokoh
kita di segala tempat dan segala waktu selalu memikirkan wanita itu
saat
sedang makan, sedang mandi, bahkan sedang tidur.
saat
sedang berjalan pun tokoh kita masih memikirkan wanita itu
sehingga
tokoh kita tidak lagi sempat menyapa dan memuji
orang-orang
yang dijumpainya di jalan.
orang-orang
merasa heran karena sikap tokoh kita berubah lagi
sebagian
orang menganggap tokoh kita sudah sehat dan waras
tapi
sebagian orang malah menuduh tokoh kita semakin gila dan tak beres
akalnya.
tuduhan
gila pada tokoh kita sampai juga di telinga wanita itu
wanita
itu memang tidak membenarkan tuduhan bahwa tokoh kita sudah gila
tapi
membenarkan bahwa tokoh kita tidak lagi bersikap terbuka.
selama jalan-jalan berdua
tokoh
kita hanya sibuk dengan kegiatan membaca dan berjemurnya
dan
tidak pernah lagi menyapa dan memuji si wanita
paling-paling
tokoh kita hanya memandang si wanita tak henti-hentinya.
karena
si wanita merasa tokoh kita sudah berubah sikapnya
maka si
wanita memutuskan untuk putus dengan tokoh kita
tokoh
kita kaget mendengar putusan itu.
tokoh
kita sungguh putus asa
dia
kehilangan nafsu makan, nafsu mandi, bahkan nafsu tidur
sehari-harinya
dia terus menutup diri di rumah kardusnya
tidak
pernah pergi ke kampus apalagi berkunjung ke google.
setelah
bertahun-tahun tidak berkunjung ke situs google
tokoh
kita tidak menyadari bahwa sesungguhnya di dunia ini ramai sekali
sehingga
tokoh kita selalu merasa sendiri dan sepi.Sabtu, Desember 17
wanita prancis
tokoh
kita sedang semangat mencari pacar
jika
punya pacar tokoh kita ingin berjemur di pantai bersama pacarnya
jika
punya pacar tokoh kita ingin membaca buku di perpus bersama pacarnya.
tokoh
kita mencari pacar di jejaring sosial
di
twitter tak ada wanita yang berhasil memikatnya hatinya
di
facebook ada seorang wanita tapi sudah ada yang punya.
di
google plus tokoh kita bertemu dengan seorang wanita
wanita
itu memakai dress warna hijau kepalanya
dihiasi topi beledru
penampilan
wanita itu anggun meski agak kikuk dan cenderung malu-malu
tetapi
tatapan matanya tajam sekaligus menunjukkan bahwa ia wanita pemberani.
wanita
itu menatap tokoh kita
tokoh
kita yang selama hidupnya jarang ditatap wanita
segera
saja salah tingkah sekaligus berbunga-bunga
apalagi
wanita yang menatapnya kali ini bisa dibilang memiliki paras yang lumayan cantik.
wanita
itu memperkenalkan dirinya kepada tokoh kita
wanita
itu bilang bahwa dia berasal dari prancis dan baru pertama kali ke indonesia
maka dia
perlu pemandu dan pendamping selama di indonesia
wanita bernama itu simone de beavoir.
simone
de beavoir segera saja akrab dengan tokoh kita
mereka
jalan-jalan berdua ke mana saja mereka suka
mulai
dari berjemur di pantai
hingga
membaca buku di perpustakaan
karena
sudah lama berdua
lama-lama
tokoh kita mulai merasakan cinta
pada simone de beavoir.
“aku
cinta padamu,”
ujar
tokoh kita dengan cepat sekaligus malu-malu.
wanita
itu pada awalnya kaget dan tidak menyangka sama sekali
ia
sempat keringat dingin meski lama-lama bisa mengendalikan dirinya
sebenarnya
wanita itu tidak cinta pada tokoh kita
maka ia terus diam saja.
tokoh
kita sangat kecewa karena wanita itu menolak cintanya
tokoh
kita mulai kehilangan semangat hidup
dia
mulai jarang makan, jarang tidur, hingga jarang mandi.
pada
suatu hari tokoh kita berjalan luntang-lantung tanpa arah
hari itu hari jumat di jalan banyak orang berduyun-duyun menuju masjid
tokoh
kita seperti orang yang terbawa arus sungai saat banjir
tokoh
kita ikut saja mengikuti arus orang-orang yang berjalan menuju masjid.
di
masjid tokoh kita duduk di barisan paling depan
persis
di depan imam yang sedang ceramah jumat
imam
jumat yang ceramah sedang membahas tentang surga
juga
membahas tentang neraka.
pembahasan
tentang surga dan neraka didengarkan tokoh kita dengan seksama
begitu
mendesak persoalan itu merasuk ke pikirannya
apalagi
latar belakang tokoh kita adalah sarjana filsafat
jadi
biasa memikirkan persoalan yang berat-berat.
kini
mendengar imam jumat berceramah tentang surga dan neraka
tokoh
kita merasa ada yang menggelitik-gelitik dalam perutnya
perasaan
menggelitik-gelitik itu lama-kelamaan berubah menjadi perasaan mual
seperti
ada sesuatu yang mendesak keluar lewat kerongkongannya.
“bohong tuh,” teriak tokoh kita lantang
persis
ketika imam jumat sedang menjelaskan bahwa
orang
yang rajin beramal akan masuk surga.
teriakan
tokoh kita didengar orang-orang dalam masjid
segera saja orang-orang dalam masjid merah mukanya dan naik pitam darahnya
tokoh
kita diseret paksa keluar masjid.
di jalan
tokoh kita digebuki orang-orang
orang-orang
juga tidak lupa melucuti pakaian tokoh kita
hingga
tokoh kita telanjang bulat.
tokoh
kita pun kembali jalan luntang-lantung tanpa arah
badannya
babak belur dan jalannya terseok-seok
tokoh
kita berjalan dengan daun pisang menutupi burungnya.
tiba-tiba
tokoh kita berpapasan dengan simone de beavoir
simone de beavoir sungguh kaget melihat tokoh kita
begitu pula tokoh kita kaget melihat simone de beavoir
dan
tokoh kita langsung jatuh pingsan.
karena
pingsan tokoh kita diangkut pergi ke rumah de beavoir
di rumah de beavoir tokoh kita dirawat
diobati
luka-lukanya hingga sembuh.
setelah
sembuh tokoh kita diajak jalan-jalan
bersama de beavoir berjemur di pantai
bersama de beavoir membaca buku di perpustakaan.Jumat, Desember 9
unas
tokoh
kita sedang ada di perpus unas
membaca
buku-buku yang tersusun rapi di rak-rak
buku-buku
membentuk gunungan
sebanyak
ratusan hingga ribuan buku terbaca.
lama-lama
tokoh kita merasa muak dan merasa mau muntah
karena
melihat buku-buku sisa bacaannya bertumpuk-tumpuk
di depan
tubuh tokoh kita.
tokoh
kita menatap curiga ke buku-buku itu
buku itu
ada tapi tokoh kita tak tahu mengapa
buku itu bisa ada?
apa karena
ini perpus maka buku itu ada?
atau apa
karena dia baru membaca maka buku itu ada?
membaca bukan
perkara mudah
bagi
tokoh kita membaca bukan hanya persoalan kata
kata-kata itu mencakup dunia dan manusia
jadi
membaca juga adalah membaca dunia dan manusia.
tokoh kita
benar-benar muntah setelah sadar
bahwa
tokoh kita belum pernah membaca dunia dan manusia
selama
ini tokoh kita hanya merasa pernah membaca
tapi
sesungguhnya belum pernah membaca.
selama ini
tokoh kita selalu terlihat membaca buku di mana-mana
saat masuk
kelas pasti tokoh kita membawa buku bacaan berukuran tebal
ukuran buku
tokoh kita lebih tebal dari ukuran buku dosennya
lantas dosen
tokoh kita merasa iri dan tersaingi.
suatu hari
sang dosen memberi nilai c pada lembar ujian tokoh kita
tokoh
kita terperanjat melihat nilai ujiannya
dan
lantas menemui dosennya.
“kenapa
nilai saya c?” tanya tokoh kita.
“nilai kamu c karena saya ingin
memberi kamu nilai c. nilai kamu akan a jika saya ingin memberi kamu nilai a,” jawab sang dosen
panjang lebar.
omongan sang dosen membuat tokoh
kita kecewa
tokoh kita mondar-mandir saja di sekitar
kampus
memikirkan perkataan sang dosen secara
seksama dan mendalam
tokoh kita akan terus berpikir hingga
mendapatkan esensi perkataan dosennya.
pada akhirnya tokoh kita mendapat
jawaban
tokoh kita segera mendatangi sang
dosen
dan meminta sang dosen untuk
tidak memberi tokoh kita nilai.
menurut tokoh kita
nilai hanya mereduksi kehidupan
mahasiswa maka nilai seharusnya dienyahkan saja
dengan kata lain tiada nilai.
sang dosen senang bukan kepalang
mendengar gagasan tokoh kita
segera saja sang dosen menghapus nilai
tokoh kita
sehingga nilai tokoh kita menjadi nilai e.
dengan terhapusnya nilai tokoh
kita
maka semester ini sang dosen
berhasil menidakluluskan seluruh mahasiswanya
ketidaklulusan seluruh mahasiswa semester
ini adalah prestasi terbaik sang dosen
dalam lembar sejarah
pengajarannya.
bagi sang dosen ketidaklulusan
mahasiswa sangat menggembirakan hatinya
karena jika mahasiswa tidak lulus
maka mahasiswa menjadi bereksistensi tiada
dengan begitu sang dosen menjadi bereksistensi ada.
sang dosen kini semakin sering
berdoa
agar semakin banyak saja
mahasiswa seperti tokoh kita
yang meminta nilai-nilai ditiadakan saja.
suatu hari di unas nilai-nilai
benar-benar ditiadakan
sehingga dosen-dosen bisa mengajar
sebebas-bebasnya
dan para mahasiswa juga bisa
belajar hingga sebebas-bebasnya.
tokoh kita belajar tidak
henti-hentinya
segala hal dipelajari dengan
penuh rasa tanggung jawab
ia belajar bersama dengan teman-teman di kampusnya.
kebersamaan ini meningkatkan hasrat tokoh kita
untuk terus belajar dan membaca segala hal
membaca kata-kata, manusia, dan dunia.
setiap
hari tokoh kita terlihat ada di perpustakaan
unas
membaca
buku-buku yang tersusun rapi di rak-rak
buku-buku
membentuk gunungan
sebanyak ratusan hingga ribuan
buku terbaca sudah.
Selasa, Desember 6
utusan cina
tokoh
kita sedang jalan-jalan menjelajahi kota batavia
siang
ini ramai sekali di jalan banyak kuda dan kereta
bahkan
ada empat ekor gajah segala
di
sepanjang sisi jalan anak-anak
dan
budak berkumpul.
kata
salah seorang budak
nanti
sore akan ada utusan cina datang bertamu
jadi
tuan kompeni berkonvoi mendatangi pelabuhan
buat
menjemput sang utusan dan biar si utusan merasa senang.
konvoi
sengaja dibuat ramai.
tokoh
kita juga senang melihat keramaian ini
dia
ikut-ikutan juga berkonvoi mengunjungi pelabuhan
dia
menumpang di salah satu punggung gajah
yang
penampilannya paling gagah.
gajah yang
ditumpangi tokoh kita bertubuh besar dan tinggi
meski tubuhnya
besar tapi jalan gajah itu sangat lamban
sehingga
tokoh kita tertinggal
paling
belakang.
karena bosan
terus jalan paling belakang
tokoh
kita memutuskan untuk berjalan kaki saja ke pelabuhan
jarak
dari batavia ke pelabuhan dekat saja
belum
lama berjalan kaki
tahu-tahu
sudah sampai.
ternyata
di pelabuhan utusan cina sudah tiba
dia
menunggu di pelabuhan sambil ditemani
oleh dua
orang pendampingnya.
utusan
cina dan dua pendampingnya punya kesamaan model rambut
bagian
kepala depan mereka sama-sama botak halus
sementara
bagian kepala belakang
berambut
panjang dan dikepang
seperti
perempuan.
para perempuan
tentu tak ingin punya pacar dengan pria yang punya model rambut seperti itu bahkan
jika tokoh kita adalah perempuan
dari
pada punya pacar dengan model rambut seperti itu
lebih
baik tidak punya pacar saja
seumur
hidup.
tokoh
kita memang belum pernah pacaran
bukan
karena tidak laku tapi memang di batavia itu jarang perempuan
sekalinya
ada perempuan cantik
tahu-tahu
dia sudah jadi gundik
pergundikan
itu lagi jadi tren sekarang
di
mana-mana tuan kompeni pasti punya gundik
tidak
terkecuali gubernur jendral.
di
pelabuhan gubernur jendral sedang menyalami utusan cina
ditembakkan
salvo-salvo meriam ke udara
langit
jadi hitam oleh asap yang keluar dari corong-corong meriam
orang-orang
yang hadir di pelabuhan bertepuk tangan.
tokoh
kita bertepuk tangan paling kencang
selain
bertepuk tangan dia juga melambai-lambaikan tangannya ke arah utusan cina
utusan
cina segera membalas lambaian tangan tokoh kita
disertai
senyuman di wajah.
wajah
utusan cina sepintas seperti terbakar matahari
maklum saja
perjalanan dari cina ke batavia lumayan memakan waktu
kira-kira
diperlukan waktu sekitar satu hingga dua bulan
makanya
wajah-wajah mereka gosong menghitam.
wajah
tokoh kita sendiri sudah sangat hitam
sudah
empat tahun lebih tokoh kita tinggal di batavia
diselimuti
oleh gersangnya cahaya sang surya
apalagi
dia sudah jarang memakai kain-kain wol panjang yang berlapis-lapis.
selain lupa
dengan gaya pakaian tanah kelahirannya
tokoh
kita juga sudah lupa dengan keluarganya di rumah
dia jadi
sedih karena tiba-tiba dia sadar bahwa
sudah
bertahun-tahun dia terpisah dengan keluarganya.
“sudah
jangan terlalu memikirkan keluarga. keluarga anda pasti sehat-sehat saja,”
kata
utusan cina berusaha menenangkan hati tokoh kita.
hati
tokoh kita jadi lebih tenang
apalagi
ketika dia kembali ke dalam benteng kota
di sana
sedang diadakan pesta penyambutan
buat
kedatangan utusan cina.
sang
utusan cina itu mengajak tokoh kita
buat
senang pesta-pesta makan makanan apa saja yang tersedia
tokoh
kita jadi gembira luar biasa
lompat
menari berdansa-dansa.
tokoh
kita lalu jalan-jalan menjelajahi kota batavia
malam
ini ramai sekali di jalan banyak kuda dan kereta
bahkan
ada empat ekor gajah segala
di
sepanjang sisi jalan anak-anak
dan
budak berkumpul.
Sabtu, November 12
kaskus
ada
seorang tokoh pria
sebutlah
nama dia mimin atau momod atau entah siapa saja
tak
ada seorang wanita ingin berteman akrab dengannya
apalagi
mau capek-capek jalan berdua dengan dirinya.
suatu
senja di bawah purnama tokoh kita tenggelam membaca
cerita
pendek karangan maesa
yang
berjudul “mereka bilang saya monyet”
tanpa
berkedip dia membaca
dia
terharu karena pengarangnya, eh ceritanya.
tokoh
kita memutuskan untuk bertemu
dengan
djenar maesa ayu
setelah
menghayati setulus hati
kandungan
cerita pendek maesa.
dia
merasa maesa adalah sesosok wanita
yang
senantiasa gelisah jiwanya
sehingga
membutuhkan seorang pria
buat
teman berbagi cerita
dia
bawa setangkai bunga untuk maesa
dipetik
dari pohon kamboja
kenapa
harus bunga kamboja?
karena
baginya bunga kamboja adalah lambang rasa cinta
yang
tak lekang oleh masa.
baru
mau dicari si maesa
eh,
langsung ketemu tanpa sengaja
di
situs kaskus the largest indonesian community
aduh,
itu hati langsung melayang tinggi sekali.
di
situs kaskus si maesa sedang menangis
setitik
airmata di pipi kanan
tokoh
kita bertanya,
“kenapa
anda menangis, pengarang?”
maesa
menjawab seraya menghilang,
“karena mereka bilang aku agan.”
tokoh
kita ingin ketemu maesa lagi besoknya
mau
menyerahkan bunga kamboja
yang
kemarin lupa dia berikan
tapi
kok, di situs kaskus maesa sudah tidak ada.
tokoh
kita mencari kemana-mana
tapi
maesa tak ada juga
hanya
ada jejak airmata
hampir
terhapus oleh senja.
suatu
senja di bawah purnama
tukang
pos mendatangi rumahnya
mengantarkan
surat yang di amplopnya tertulis nama dari maesa
kepada
pria bunga kamboja.
tokoh
kita dengan cepat membuka
amplop
dan mengambil surat yang tersimpan di dalamnya
hanya
secarik kertas kecil dengan tulisan tinta ungu.
“tak
ada seorang pria mau berteman akrab dengan diriku
apalagi
capek-capek jalan berdua denganku”.
Langganan:
Postingan (Atom)


